Komodo Islands – Disaster in Paradise

Sudah 2 tahun lebih sejak saya mulai mencintai traveling. Sudah banyak destinasi telah saya kunjungi, tapi kalau ditanya tempat mana di Indonesia yang sangat ingin saya datangi, jawabannya adalah Rinjani dan kepulauan Komodo.

Mei 2014, sehari sebelum keberangkatan saya ke Komodo. Saya mendata apa saja yang mungkin terlewat untuk dipersiapkan, sambil membayangkan berada di tempat yang saya yakin adalah tempat terindah yang pernah saya datangi. Ok, done! Saya siap, walaupun saya tahu selalu ada saja yang terjadi di luar rencana. Dan apa yang terjadi kemudian di trip ini, benar-benar di luar rencana siapapun…

Sunset di Labuan Bajo
Pulau Sabolon

Saya terbangun saat matahari terbit di kapal yang membawa kami mengelilingi kepulauan Komodo. Ya, cara terbaik untuk mengelilingi kepulauan indah ini adalah dengan living on board di kapal. Ini adalah hari ke-3 kami di sini, setelah sebelumnya kami telah mengunjungi beberapa spot seperti pualu Sabolon, Rinca, pulau kelelawar, dll. Dan hari ini kami akan mengunjungi Taman Nasional Komodo, Pantai Pink, dan Gili Lawa. Yang perlu diperhatikan saat berada di habitat komodo adalah selalu ingat bahwa komodo adalah hewan buas, jangan pernah meremehkan kekuatan dan kecepatannya. Selalu bersama ranger, dan jangan melanggar peraturan yang mereka buat.

Pulau Rinca
Pulau Rinca
Sunset di Pulau Kelelawar – Saat matahari terbenam ribuan kelelawar akan keluar dari “rumahnya”

Ayong, Monik, Intan

Ayong dan komodo
Sunrise di Pink Beach

Pink Beach terletak tidak jauh dari taman nasional. Tempat ini dinamakan pink beach karena pasir pantainya berwarna pink karena bercampur dengan serpihan terumbu karang di sekitar situ. Kapal kami tidak bisa merapat ke pantai karena kawasan ini merupakan daerah konservasi terumbu karang, dan kapal besar beresiko merusaknya. Cara untuk menuju ke pantai adalah dengan berenang dari kapal menuju pantai. Saya bukan perenang handal, ditambah kata-kata kapten kami, “saya ragu ada yang bisa sampai ke pantai di arus sekencang ini” membuat saya ragu-ragu untuk terjun dari kapal. Aswin, yang reputasinya sudah terbukti sebagai perenang terhebat di trip ini, “bertanggung jawab” untuk mengecek arus. Pakai masker, snorkel, fin, terjun, dan langsung terseret arus. “Gila, arusnya kenc… blub blub blub…”, teriaknya. Saya segera turun karena penasaran dengan arusnya… Keputusan salah, dalam sekejap saya langsung terseret ke belakang. Saya coba berenang maju, tapi badan saya “kalah” dari arus. Saya semakin jauh dari kapal, saat tiba-tiba ada kapal kayu kecil di belakang saya dan menarik saya ke atas. Untung… Dan akhirnya kami semua naik kapal kecil itu sampai ke pantai. Ya, termasuk Aswin sang juara.

Pink Beach

Kami bersiap kembali ke kapal untuk meneruskan perjalanan ke Gili Lawa saat saya mendengar suara burung yang sangat keras. Burung gagak. Saya bukan orang yang percaya tahayul, tapi burung gagak banyak diasosiasikan sebagai burung pembawa bencana. Saya mencoba mencari burung itu tapi tak kelihatan, hanya suaranya saja yang terdengar. Ah sudahlah, kami kembali ke kapal.

Sekitar 1-2 jam perjalanan, Gili Lawa mulai terlihat di depan kami. Dari jauh saya melihat jalan setapak menuju puncak tempat melihat sunset. Saat itu Gili Lawa adalah tempat terbaik di kepulauan Komodo untuk melihat sunset (di tahun 2014, pulau Padar belum setenar sekarang sehingga tidak banyak yang tahu, termasuk guide kami). Seolah membaca pikiran saya, guide kami yang bernama pak Martin berkata kita akan lewati jalan setapak itu untuk sampai ke atas. Ok, lumayan jauh, dan di beberapa tempat kelihatannya ada yang mengharuskan kami untuk mendaki dengan tangan.

Sama seperti di Pink Beach, di sini kapal kami juga tidak bisa terlalu dekat ke pantai. Salah seorang kru segera menurunkan sekoci ketika tiba-tiba suara itu terdengar kembali. Ya, suara burung gagak tadi… Kali ini saya melihat burung itu di kejauhan, dan tak lama kemudian mendarat di dek kapal kami. Mau apa dia mengikuti kapal kami sampai ke tempat ini? Saya mulai berpikir macam-macam, tapi ah sudahlah, memang apa yang bisa terjadi di sini?

Karena sekoci hanya ada 1, terpaksa kami mengantri untuk diseberangkan ke darat. Setelah semua sampai, kami segera mulai trekking menuju puncak Gili Lawa. Setengah perjalanan, Tari terlihat sangat kelelahan dan kami memutuskan untuk beristirahat sebentar dan menengok ke belakang. Luar biasa… Jauh lebih indah daripada di foto. Beberapa menit kami sibuk sendiri-sendiri untuk mengambil gambar ketika tiba-tiba Aswin melihat awan yang bentuknya tidak biasa di arah barat. “Itu sepertinya awan hujan badai. Sebaiknya kita cepat naik, sepertinya akan ada badai”, kata pak Martin. Awan badai? Bentuknya lebih mirip ledakan bom nuklir, pikir saya. Ok, better hurry…

Tari terlihat tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan, sehingga Aswin dan kapten kapal kami memutuskan untuk menemani dan menunggu kondisinya membaik. Jadi hanya tinggal saya, Ayong, Yahya, Intan, Monik, dan pak Martin yang meneruskan perjalanan ke puncak Gili Lawa, sementara langit semakin gelap.

Sampai di puncak, kami masih harus menunggu lama untuk melihat sunset. Belum ada pengunjung lain di sana karena kami memang terlalu cepat datang, padahal saat itu sudah sangat gelap karena awan tadi benar-benar menutupi langit Gili Lawa. Kami sibuk foto-foto sementara pak Martin tampak serius berbicara di telepon genggamnya. Tak lama kemudian dia berkata “kita turun sekarang, gunung Sangiang meletus… Itu bukan awan badai, tapi abu letusan gunung Sangiang”.

Letusan Sangiang dilihat dari Gili Lawa

Kami semua diam. Di kejauhan saya melihat kapal-kapal yang akan berlabuh mengurungkan niatnya dan memilih kembali. Mungkin mereka sudah mendapat kabar ini dan tidak mau mengambil resiko.

Kami turun lewat jalan yang berbeda, sambil tertawa dan foto-foto. Jujur, saat itu kami tidak berpikir kondisinya seburuk itu. “Oh, gunung meletus, ok kita turun sekarang”. Hanya pak Martin yang terlihat begitu tegang. Perasaan saya mulai cemas, 2 teman dan kapten kapal kami masih berada di atas dan mereka tidak tahu soal gunung meletus ini karena tadi kami terpisah. Berkali-kali pak Martin mengingatkan kami untuk mempercepat langkah agar kami segera naik ke kapal dan dia bisa menjemput teman-teman kami yang lain. Sampai di bawah, pemandangan benar-benar sudah berubah. Tiba-tiba mata saya terasa perih saat saya melihat ke langit yang sudah benar-benar gelap. Hujan abu…

Kami sudah berada di kapal saat kru mulai berkemas. Mereka menurunkan layar, sesuatu yang belum pernah saya lihat sejak tiba di sini. Tidak ada seorangpun yang berkata-kata. Semua diam saat kapal berjalan dengan sangat cepat menuju Labuan Bajo. Sangat cepat…

Ayong meminta saya untuk mengambil gambar. Saya berdiri di haluan, mengambil beberapa gambar di depan. Saya berbalik badan bermaksud mengambil gambar di belakang, foto Gili Lawa di kejauhan yang sudah tertutup abu vulkanik, dan seketika saya terdiam. “guys, you better check this out…” Semua bangkit, menengok ke belakang, duduk lagi, dan melihat langit yang sudah sepenuhnya tertutup abu vulkanik… “Mungkin ini dunia yang dilihat dinosaurus menjelang kepunahan mereka karena dihantam meteor jutaan tahun lalu, dan semoga ini bukan berarti kepunahan spesies keturunan mereka sekarang”, pikir saya lebay. Jujur, saya sudah pasrah saat itu. Saya sempat berpikir, kalau memang harus mati di sini ya sudah… Kemungkinannya hanya 2, mati karena gelombang pasang setinggi 100 meter atau awan panas bersuhu 1000 derajat celcius dengan kecepatan 700 km/jam di tengah laut Flores. Yang manapun, semoga saya mati sebelum sempat merasakan sakit.

Syukurlah, 3 jam di tengah laut bergelombang itu akhirnya selesai. Kami masih hidup, tapi trip ini benar-benar sudah berakhir bagi kami. Letusan Sangiang membuat bandara ditutup dan semua kapal dilarang melaut sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Dua hari setelah letusan, kapal sudah boleh melaut, tapi bandara masih ditutup. Kami memutuskan untuk menyeberang ke Sumbawa lewat laut, daripada hanya berdiam diri di Labuan Bajo. Dengan menggunakan kapal cepat, kami menyeberang ke Sape di Sumbawa. Ada kejadian menarik, saat teman-teman saya sudah masuk semua ke kapal, saya masih sibuk berusaha membayar hotel kami di tempat parkir pelabuhan (kami diantar dengan mobil dari hotel dan sang driver membawa mesin EDC). Kapal akan segera berangkat, sementara si mesin EDC masih berjuang mencari sinyal… Gagal, ulangi, gagal lagi, dst… Saya menyerah. Akhirnya sang driver, yang belakangan saya ketahui adalah kepala chef di hotel tersebut mengeluarkan kertas dan menulis nomor rekening. “Berangkat saja, sampai di Bima nanti transfer ke sini”. Ah baik sekali! Saya segera menyambar kertas itu, berterima kasih sampai membungkuk, dan langsung berlari menuju teman-teman saya yang sudah memasang muka sangat cemas takut saya tertinggal. Keburu!

Sampai di Sape, kami sudah ditunggu oleh staff kantor cabang tempat saya bekerja dan langsung mengantar kami ke Bima. Kami menginap semalam di Bima dan berangkat ke bandara Bima keesokan harinya tanpa tahu apa bandara tersebut dibuka atau tidak. Ok, bandaranya buka, tapi tidak ada flight! Hah? Saya coba tanyakan ke bagian informasi, katanya keberangkatan pesawat menuju Bali saat ini masih belum berangkat dari Bali, dan masih belum jelas berangkat ke Bima atau tidak, karena masih ada abu vulkanik di langit yang beresiko bagi penerbangan. Dan lagi-lagi kami menunggu… Sampai akhirnya ada pengumuman pesawat dari Denpasar sudah berangkat menuju Bima, yang berarti tidak lama lagi kami akan segera pulang.

Entah mengapa, ATR72 milik Wings Air saat itu terlihat sangat bagus. Pesawat itu membawa kami ke Bali. Dan dari Bali kami lanjut ke Jakarta dengan pesawat lain. Menyesal dengan trip ini? Sama sekali tidak… Ini adalah salah satu trip terunik saya. I mean, banyak orang yang punya foto sunset dari puncak Gili Lawa, tapi siapa yang berhasil mengabadikan letusan Sangiang tahun 2014 dari puncak Gili Lawa? Tidak ada, karena saat itu hanya kami yang berada di sana, hahaha…

Letusan Sangiang dilihat dari Gili Lawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *