Tangkahan – One of My Best Impulsive Decision

Well, saya memang bukan tipe orang yang ‘merencanakan’ perjalanan. Tapi Tangkahan adalah salah satu trip ter-impulsif saya. Sore itu mungkin Ajeng lagi banyak dosa, jadi setan dengan gampangnya bisikin dia yang kira-kira begini dialognya:

Ajeng: Duh, ajak siapa lagi nih, harus ada tambahan orang biar ga mahal-mahal amat ke Tangkahan…

Setan: Jeng, bukannya kamu punya temen yg gampangan alias murahan kalau diiming-imingin ngetrip?

Ajeng: Hah, siapa Tan?

Setan: Anto lah! Siapa lagi?

Ajeng: Oiya… dia murahan!

Dan… begitulah…

Setelah saya termakan bujuk rayu setan berwujud Ajeng, malamnya saya langsung meminta ijin memberi pengumuman ke nyonya besar kalau saya akan pergi ke Tangkahan. Dalam waktu beberapa jam, tiket pesawat sudah dalam genggaman.

Tangkahan terletak di kaki gunung Leuser, dan masih masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Untuk sampai ke Tangkahan, kami membutuhkan 5 moda transportasi. Ambil flight ke Kualanamu, sambung kereta bandara sampai ke Medan, kemudian naik taksi online ke terminal Pinang Baris.

Kereta bandara Kualanamu

Sampai di titik ini kami tidak menemui masalah berarti, sampai akhirnya kami tiba di terminal Pinang Baris dan mencari bus yang menuju Tangkahan. Konon terminal ini cukup kejam dengan banyaknya calo yang menaikkan harga semaunya sendiri untuk orang-orang bertampang turis. Untunglah, kami bertampang model… #eh. Tanya-tanya orang sekitar, dengan santainya mereka bilang “Bisnya udah ga beroperasi bang!” Lahh udah sampe sini masa pulang? “Tapi kalau mau, naik elf sampai kebun sawit, tarifnya 25 ribu, terus naik ojek”, lanjut mereka. Oh masih ada alternatifnya toh, dan tarifnya sama dengan yang saya baca-baca di internet.

Salah! Setelah masuk ke elf, si calo minta tip dong. Adhyn, pria mapan, tampan, dermawan, dan masih single segera memberi tip “se-tidak-ikhlas-nya” kepada si calo yang menyuruh kita naik elf ini, dan perjalanan pun dimulai. Butuh waktu sekitar 4 sampai 5 jam perjalanan untuk sampai di kebun sawit, yang harus saya akui merupakan perjalanan dengan angkot terunik yang pernah saya alami. Kenapa?

  1. Angkot ini tidak hanya mengangkut manusia, tapi juga barang titipan dan hewan (baca: ada 1 set ban mobil di atap dan seekor ayam jago berbaring nyaman di bawah kursi saya).
  2. Entah gimana caranya, 1 mobil elf ini bisa diisi sampai 30 manusia… Dan seekor ayam.
  3. Angkot ini tidak hanya mengantar, tapi juga menjemput penumpangnya DI RUMAH MASING-MASING!
  4. Ini yang paling epic… penumpang bisa turun sebentar untuk mengambil uang di ATM, membeli makanan dan mainan untuk balita mereka yang rewel, bahkan mampir ke kios selular untuk MENJUAL HP??? Sementara sang sopir setia menunggu dengan penuh pengertian.
Angkot jurusan Medan-Tnagkahan

Sampai di perkebunan sawit, kami kasih harus naik ojek untuk sampai di hidden paradise of Sumatera itu. Kira-kira 30 menit berada di motor dengan rasa seperti sedang balapan motor trail karena jalanan yang tidak semulus pantat penggorengan saya di rumah, kami sampai di Tangkahan. Penginapan kami bernama Jungle Lodge, berada di atas sungai dengan air yang sangat jernih. Untuk sampai di sana, kami masih harus menyeberangi jembatan gantung. Jembatan ini diberi nama Balu’s bridge untuk mengenang seekor anjing bernama Balu milik pemilik Jungle Lodge kesayangan warga sekitar yang mati beberapa waktu sebelum jembatan tersebut selesai dibangun.

Ojek menuju Tangkahan
Ajeng menyeberang jembatan gantung untuk menuju penginapan Jungle Lodge
Pemandangan dari kamar Jungle Lodge
Jungle Lodge

Hari pertama di Tangkahan, kami langsung melakukan jungle trekking. Sungai di sini sangat jernih, ditambah hutan yang masih sangat asri, tempat ini benar-benar surga tersembunyi. Kenapa saya bisa bilang hutannya masih sangat asri? Itu karena masih sangat mudah untuk menemukan pacet di hutan ini… Oke, bukan sangat mudah tapi terlalu mudah. Bang Kanu, guide lokal kami menyarankan untuk memakai lotion anti nyamuk, walaupun sebenarnya yang ditakuti pacet adalah rokok. Ya sudah, karena tidak ada satupun di antara kami yang merokok, terpaksa kami masuk hutan berisi ribuan pacet hanya bermodal lotion anti nyamuk. Dan terbukti lotion itu tidak efektif ketika saat keluar hutan saya melihat 8 ekor pacet sebesar jari telunjuk bertengger gendut kekenyangan di kaki dan pinggang saya.

Karena berdekatan dengan Bukitlawang yang merupakan habitat orangutan (bukan Taman Lawang, kalau itu habitat yang lain), kadang kalau beruntung kita bisa menemukan orangutan di Tangkahan. Juga harimau Sumatera yang habitatnya berada di gunung Leuser. Salah seorang warga sekitar berkata kalau kami tidak akan bertemu dengan harimau. Beliau sendiri sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sana tapi belum pernah sekalipun bertemu dengan harimau Sumatera, karena katanya dibutuhkan semacam ritual dari para tetua adat.

Selesai mengarungi hutan, kami melanjutkan dengan menyusuri sungai Batang Serangan dan “makan siang penuh kejutan di air terjun”, kata Bang Kanu. Dan inilah makan siang kejutan itu. Wow, mewah! Selesai makan dan main-main di air terjun, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai dengan tubing, dan dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 30 menit menyusuri perkebunan sawit.

Makan siang “kejutan” dari Bang Kanu
Menyusuri sungai Batang Serangan

Menyusuri perkebunan sawit

Selain hutan dan sungai, Tangkahan juga identik dengan gajah. Di sini terdapat 10 ekor gajah dewasa dan bayi yang dipelihara dan dilatih oleh para ranger. Konon pawang gajah dari luar negeri pun berlatih dari para ranger di Tangkahan ini. Tarif untuk memandikan gajah dan ikut jungle patrol bersama para para ranger dan gajah-gajah ini 800 ribu rupiah. Cukup mahal memang, tapi itulah biaya yang diperlukan untuk merawat dan memberi makan gajah-gajah ini.

Adhyn mandi bareng gajah

Selesai memberi makan dan memandikan gajah, inilah saat yang paling saya nantikan. Naik gajah menyusuri sungai dan hutan bersama para ranger untuk melakukan jungle patrol. Para ranger melakukan ini setiap hari untuk mencegah terjadinya perburuan satwa liar dan pembalakan hutan, dan hari itu kami berkesempatan untuk ikut! Saya dan Ajeng ikut bersama Bang Jhonny dan Theo, seekor alpha male berumur sekitar 20an tahun. Sedangkan Adhyn ikut bersama Ardhana, seekor betina berumur 40an tahun. Seperti apa sensasinya? Seperti ini:

Bang Jhonny dan Theo

Jungle patrol

Satu hal yang saya sukai dari Tangkahan ini adalah pemahaman pengelola dan warga sekitar dengan konsep eco tourism yang diusung, dan kesadaran mereka untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan alami. Dengan segala ‘kemewahan’ yang diberikan alam Tangkahan ini, tidak heran kalau kami bertemu dengan satu keluarga dari Australia yang sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, dan mereka akan kembali lagi suatu hari nanti. Tentu saja, sayapun akan melakukan hal yang sama, saya akan kembali ke tempat ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *